Tuan Rumah yang Menyambut
Kedatangan Rasulullah di Madinah
....
esungguhnya,
betapa mulia catatan sejarah hidupnya. Terpancarlah keutamaan
di atas rumah Khalid Ibn Sa’id yang dijuluki sebagai Abu Ayyub
itu. Unta Nabi SAW duduk berhenti di hadapan rumahnya. Hal ini
membuat semua orang mengarahkan pandangan mata kepadanya. Bukan
saja orang Ansar, tetapi seluruh penduduk Madinah. Kehormatan
semacam itu amat diharapkan oleh setiap orang Ansar yang dilaluinya.
Mereka berdiri di depan rumahnya masing-masing
selama beberapa saat, menunggu lalunya Rasulullah SAW. Mereka
semua ingin mengajak baginda agar mahu berkunjung ke rumahnya.
Namun setiap kali Nabi SAW lalu di hadapan rumah kaum Ansar,
tuan rumahnya berdiri di hadapan unta Nabi sambil memegangi
kekangnya seraya berkata kepada Nabi SAW: “Ya Rasulullah, singgahlah
sejenak ke rumah kami. Sedemikian jauh Rasulullah menolaknya,
baginda berkata sambil memberi isyarat kepada untanya: “Biarkan
ia meneruskan perjalanannya. Sebenarnya ia telah diperintahkan
demikian.”
Sampai Rasulullah tiba di salah satu rumah
bapa saudara baignda (dari pihak ibu), ia menjawab dengan ungkapan
seperti di atas saat mereka berusaha menghentikan kekang untanya.
Setelah orang-orang melepaskan kendali unta agar boleh melanjutkan
perjalanan sendiri, dan Rasulullah SAW juga begitu, unta tadi
berjalan sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Akhirnya sampailah
ia ke rumah Malik Ibn Al-Najjar. Unta tadi berhenti sebentar
lalu berdiri dan berjalan lagi beberapa langkah, lantas untuk
yang kedua kalinya berhenti di depan rumah Abu Ayyub Al-Ansari,
lekuk lehernya menempel di tanah dan mengeluarkan suara tanpa
membuka mulutnya.
Nampak sikap kaum Ansar iri terhadap Abu
Ayyub yang membawa tali kekang unta Rasulullah, masuk ke rumahnya
yang tersusun dua tingkat. Abu Ayyub berserta keluarganya pindah
ke lantai atas, sedang Rasulullah SAW di lantai bawah. Hal ini
dilakukannya kerana khuatir menyusahkan Rasulullah SAW, sebab
ia bemaksud menghindarkan beratnya naik-turun tangga.
Rasulullah SAW terus tinggal di rumah Abu
Ayyub Al-Ansari selama 7 bulan. Selama itu Abu Ayyub membuatkan
makanan Nabi dan menghantarkan kepadanya. Ia selalu menunggu
selesainya Nabi makan, kemudian ia dan isterinya memakan sisa
makanan baginda SAW kerana mengharapkan berkah darinya.
Suatu petang Abu Ayyub menghantar makanannya
kepada Nabi. Makanan tersebut mengandungi bawang merah dan bawang
putih. Ternyata Rasulullah tidak memakannya sedikit pun. Ketika
Abu Ayyub melihat makanan tersebut tidak berkurang sedikit pun,
ia segera turun menjumpai Rasulullah SAW seraya berkata: “Ya
Rasulullah, demi ayah dan ibumu, aku tidak melihat bekas tanganmu
dari makanan malam yang aku sediakan kepadamu.
Padahal jika engkau makan makanan itu, kami
selalu makan makanan sisamu demi mengharapkan berkah darimu.”
Jawab Nabi: “Aku jumpai dalam makanan itu sejenis tumbuh-tumbuhan
(bawang merah dan bawang putih), padahal Jibril memberitahukan
hal itu agar aku hindari. Adapun bagimu, maka boleh engkau memakannya.”
Selanjutnya Abu Ayyub berkata: “Makanan itu lalu kami makan,
kemudian kami tidak pernah membuatkan makanan kepada Nabi yang
mengandung bawang merah dan bawang putih.”
Setelah agak lama Rasulullah SAW menggunakan
waktunya untuk tinggal di rumah Abu Ayyub Al-Ansari, ia memutuskan
untuk membangun masjid dan membangun beberapa rumah bagi para
umahat al-muslimin di sekitarnya. Seluruh kaum muslimin ikut
membantu bekerja membangun masjid tersebut. Setelah selesai,
Rasulullah SAW pindah ke tempatnya yang baru di sekitar masjid.
Berbagai peristiwa berlalu begitu cepat,
sedang kaum Quraisy berupaya terlibat dalam peperangan dengan
kaum muslimin. Sekarang kaum muslimin makin siap berjuang menghadapi
kaum musyrik dan kafir, sehingga kalimat Allah mencapai kedudukan
yang tinggi dan kalimat orang-orang kafir menjadi rendah.
Peperangan terjadi silih berganti. Abu Ayyub
ikut serta dalam pertempuran tersebut, tidak ketinggalan satu
peperangan pun. Ia tidak pernah tinggal diam dalam berjuang
fi sabilillah. Bahkan ia berjuang bersama Rasulullah SAW sebagaimana
jihadnya orang yang mencari mati syahid. Ia tidak takut mati.
Jihadnya penuh semangat untuk berjumpa kepada Allah.
Di samping Abu Ayyub merupakan pahlawan
perang di masa Rasulullah SAW, ia juga seorang pejuang di masa
Khulafaur Rasyidin. Ia ikut dalam perang melawan orang-orang
murtad, membunuh para musuh Allah dan musuh agama Islam. Ia
hidup membela kehormatan Islam. Dalam tiap peristiwa pertempuran
ia selalu maju ke barisan depan.
Ketika muncul fitnah antara Saidina Ali
ra. dan Muawiyah Ibn Abi Sufyan, Abu Ayyub tanpa ragu-ragu bergabung
dalam barisan Ali. Sebab ia tahu bahawa Ali ada di pihak yang
benar. Dengan perbuatannya itu, Abu Ayyub berjuang di pihak
Ali karramallahu wajhahu, sampai Ali ra. mati syahid.
Abu Ayyub tetap ikut berjuang, tidak ketinggalan
ikut bertempur bersama kaum muslimin lainnya sampai terjadi
perang Konstantinopel. Ia menerjang barisan musuh hingga badannya
penuh luka pedang dan merasakan bahawa ajalnya telah dekat.
Ia berkata kepada orang-orang di sekitarnya: “Aku ingin jasadku
dikubur di tengah medan pertempuran atau yang dekat dengannya,
sehingga rohku bergerak di atas medan tempur, dan di akhirat
nanti aku mendengar derap kaki kuda dan gemerincingnya pedang.”
Ia menginginkan kehidupan akhiratnya dalam
keadaan berjihad sebagaimana semasa hidupnya di dunia. Pada
saat keadaannya sudah kritikal. ia merasa sakit akibat luka.
Ia masih bersemangat untuk mengibarkan bendera Islam dan mengharap
agar memperoleh kemenangan.
Setelah ia meninggal dunia, kaum muslimin
melaksanakan kehendaknya. Mereka menguburnya di dekat medan pertempuran
agar jiwanya sentiasa dapat menghirup bau jihad dan bersenang-senang
di alam akhirat kerana memperoleh pertolongan Allah.
^ Kembali ke atas
^
Kekasih Putera Kekasih
Umurnya mencapai 20 tahun ketika Rasulullah
SAW memilihnya untuk menjadi komander pasukan yang terdiri dari
kaum Muhajirin dan Ansar. Siapa gerangan pemuda yang memperoleh
kepercayaan dari Nabi SAW sehingga baginda menempatkannya pada
jabatan yang besar, menyandarkan kepadanya tugas besar dan memuliakannya
ini?
Ayah pemuda itu tak lain adalah Zaid Ibn Haritsah, salah seorang
sahabat Nabi, yang juga salah satu kecintaan baginda SAW. Rasulullah
SAW mendidik Usamah sejak kecil, dan mencintainya sebagaimana
ia mencintai dan mengasihi Hasan, Husein dan Fatimah Az-Zahra.
Baginda memberi gelaran kepadanya sebagai “Kekasih putera kekasih.”
Gelaran itu mencerminkan penghargaan Nabi
kepadanya, bahkan merupakan pelimpahan emosi kenabian yang diletakkan
kepada emosi manusiawi, sehingga mampu mengangkat darjat Usamah
dan ayahnya ke peringkat orang-orang yang dikasihi dan dicintai
oleh Rasulullah SAW
Sebenarnya Usamah patut sekali memperoleh
julukan tersebut. Sejak, dari masa kanak-kanaknya ia telah mereguk
cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan cinta kepada Islam. Ia amat
dekat dengan Nabi seperti halnya Hasan dan Husein. Ia makan
bersama Nabi dan menyaksikan pergaulannya yang baik bersama
keluarga dan pembantunya. Ia menyaksikan akhlak Nabi dan perilakunya
yang baik serta mulia dan teladan yang tinggi.
Pada masa muda belia, ia berangan-angan
untuk menyandang senjata dan berjuang bersama orang-orang
yang berjihad sebagaimana halnya beliau menolak anak-anak yang
sebaya dengannya untuk terjun ke medan perang melawan orang-orang
musyrikin.
Ketika Usamah mencapai usia dewasa, mampu
menyandang senjata, Rasulullah SAW membolehkan ia bergabung
dengan barisan para pejuang. Dengan demikian ia berusaha membuktikan
angan-angannya yang diinginkan sejak kecilnya. Hal ini sebagai
ujian berat baginya untuk mempersiapkan dirinya untuk memperoleh
darjat yang tinggi.
Hal itu terjadi tidak berapa lama setelah
penaklukan Makkah. Kaum musyrikin masih menghendaki kemenangan
atas Nabi dan kaum muslimin. Nabi mengetahui hal yang penyebab
perkara ini. Baginda mengumpulkan ribuan pejuang dan pasukan
panah di Hunain, sehingga memenuhi lembah dan perbukitan Hunain.
Kaum muslimin tidak menyangka akan kalah,
sebab jumlah dan perlengkapannya amat besar. Tapi Allah menghendaki
agar mereka tahu tentang hakikat agama dan mutiara akidahnya
sehingga mereka tahu bahawa hanya Allahlah yang berhak menentukan
kemenangan. Menjelang fajar kaum muslimin masuk ke daerah Hunain,
dan kaum musyrikin menyerang secara mendadak dengan panah dan
tombak sehingga menjadikan kaum muslimin terdesak mundur kerana
terkejut.
Sedangkan Nabi masih diam di tempat seraya
berseru: “Hai orang-orang, mahu kemana? Sungguh saya adalah
Nabi, cucu Abd Al-Muthalib.” Beberapa orang di sekitarnya masih
tetap bertahan. Di antara mereka ada Usamah Ibn Zaid. Orang-orang
tersebut tetap teguh di sekitar Nabi sehingga pengaruh serangan
mendadak tadi hilang dalam jiwa kaum muslimin. Mereka kembali
ke medan perang melawan kaum musyrikin sehingga sebahagian terbunuh
dan sebahagian tertawan.
Pertempuran Hunain ini meninggalkan kesan
yang menarik bagi diri Rasulullah SAW. Orang-orang yang berdiri
di sekitarnya pada saat-saat sulit merupakan orang-orang yang
teguh iman dan keberaniannya. Tidak hairan apabila Nabi SAW
memilih Usamah sebagai komandan pasukan yang dipersiapkannya
untuk menghadapi tentera Rom. Hal itu terjadi setelah diketahui
pengorbanan, keteguhan perjuangan dan tekadnya yang mantap.
Terpilihnya Usamah sebagai komandan pasukan
ternyata tidak mamuaskan sebahagian kaum Muhajirin dan Ansar.
Mereka saling berkata: “Mengapa Nabi SAW memilih pemuda ini,
bukankah kita memiliki tokoh-tokoh tua yang berpengetahuan dan
berpengalaman dalam masalah perang?”
Lalu perbincangan tersebut sampai kepengetahuan
Nabi. Saat itu baginda sedang sakit. Baginda mengambil air untuk
mendinginkan badannya lalu keluar seraya berucap di hadapan
mereka: “Sebahagian orang meremehkan kepemimpinan Usamah Ibn
Zaid. Sebelumnya mereka juga telah meremehkan kepemimpinan ayahnya,
meskipun ayahnya waktu itu layak memegang tampuk pimpinan.
Demikian pula dengan Usamah. Usamah termasuk
orang yang aku cintai setelah ayahnya. Aku mengharapkan agar
ia menjadi orang yang baik di antara kamu. Kerananya berbuat
baiklah kepadanya.”
Lalu Nabi berpesan kepada para sahabat agar mereka mem-berangkatkan
pasukan Usamah. Namun tentera muslimin masih tertunda beberapa
hari di Al-Jarf (suatu tempat di dekat Madinah). Sementara itu
penyakit yang dideritai Rasulullah kian berat. Tidak berapa
lama setelah itu baginda wafat.
Setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah,
langkah pertama yang langsung ia kerjakan adalah mengangkat
Usamah sebagai pasukan kaum muslimin. Segera saja pasukan tersebut
menuju ke perbatasan Syam. Di perbatasan itu kaum muslimin menaklukkan
salah satu perkampungan Rom. Hal ini menimbulkan ketakutan bagi
penduduk Rom lainnya. Kemudian pasukan yang dipimpin oleh Usamah
kembali tanpa kehilangan seorang tentera pun. Seluruh penduduk
Madinah menyambutnya dengan meriah.
Setelah itu Usamah hidup tekun beribadah,
puasa di siang hari dan solat sunah di malam hari sampai menjelang
wafatnya pada tahun 54 H. Ia meninggal sebagai orang yang suci
dan soleh.
^ Kembali ke atas
^
Pedagang Yang Zuhud
Abu Darda’ memiliki harta amat banyak yang
ia kembangkan dengan cara berdagang. Kerana kejujuran dan amanahnya,
ia dipercaya oleh penduduk Makkah. Mereka membeli segala keperluannya
kepada Abu Darda’ sebab mereka yakin bahawa ia bukanlah penipu.
Abu Darda’ menjual barang-barang yang masih baik dan istimewa
kepada mereka dengan harga yang menarik.
Suatu hari hati dan fikirannya terbuka untuk
menerima Islam. Ia pergi menjumpai Rasulullah SAW, di hadapan
baginda ia masuk Islam. Setelah itu ia mengetahui bahawa ada
sesuatu perdagangan yang tidak akan rugi, iaitu perniagaan dengan
modal iman, akidah dan jihad. Maka Abu Darda’ memutuskan untuk
menggunakan segenap fikiran, jiwa dan umurnya demi perniagaan
di jalan Allah.
Abu Darda’ tidak meninggalkan kehidupan
duniawi sama sekali, tapi ia juga tidak melalaikan ibadah. Ia
mampu menggabungkan antara perdagangan duniawi dengan ibadah.
Antara dunia dengan akhirat. Antara muamalah yang benar dengan
sesama manusia dan hubungan yang benar kepada Allah. Antara
mengambil bahagian dari kehidupannya di dunia dengan bahagian
kehidupannya di akhirat.
Ia menganggap bahawa berzikir kepada Allah,
takwa, dan ibadah kepada-Nya itu lebih berharga daripada segala
sesuatu yang di bumi baik yang berupa harta mahupun kesenangan
lainnya. Tingkat takwa dan waraknya mencapai peringkat orang-orang
yang suci lagi soleh. Kadang kala ia duduk berdiam diri. Apabila
seseorang bertanya: “Untuk apa berdiam diri, hai Abu Darda’?”
Jawabnya: “Berfikir satu saat itu lebih baik daripada ibadah
sepanjang malam.” Ertinya Abu Darda’ yang ahli ibadah dan hidup
zuhud ini sedang memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi,
memperhatikan keindahan ciptaan Allah.
Ia tidak mencari harta kecuali sekadar mencukupi
keperluan makan dan pakaian keluarganya secara sederhana. Seringkali
ia menyampaikan ideanya kepada para sahabatnya. Ia berkata:
“Mahukah engkau aku beritahukan sebaik-baik perbuatan yang paling
suci di sisi Tuhan, yang boleh mengangkat darjat lebih tinggi
daripada engkau memerangi musuh dan yang lebih baik dari banyaknya
dirham dan harta? Itulah zikir kepada Allah. Sungguh zikir kepada
Allah adalah amalan yang paling besar.”
Bagi Abu Darda’, zikir kepada Allah merupakan
amalan yang paling utama dibanding yang lain. Manisnya iman
telah menguasai segenap perasaan dan memenuhi hatinya. Baginya
dunia ini hanya perkara kecil dan segala yang ada di dalamnya
berupa kesenangan tidak boleh disamakan dengan nikmatnya ber-taqarrub
kepada Allah meskipun sejenak.
Abu Darda’ menggambarkan kesenangan duniawi yang bakal punah
ini dalam salah satu surat yang ia kirimkan kepada salah seorang
sahabatnya.
Ia berkata: “Adapun setelah itu, tidak ada ertinya bagi orang
yang bermegah dengan kehidupan duniawi. Harta itu telah beredar
pada orang lain sebelummu, lalu kepada orang lain sesudahmu.
Engkau tidak memilikinya kecuali apa yang sedang engkau hadapi.
Selanjutnya bagi orang yang mengumpulkan harta agar dapat diwariskan
kepada anakmu, maka sebenarnya engkau mengumpulkan harta itu
untuk dua kemungkinan. Mungkin untuk anak soleh yang beramal
di jalan ketaatan kepada Allah lalu berbahagia dengan pemberianmu,
atau untuk anak derhaka yang beramal di jalan kemaksiatan. Maka
sia-sialah harta yang engkau kumpulkan itu, kerananya percayalah
bahawa Allah akan memberi rezeki kepada mereka dan selamatkanlah
dirimu.”
Begitulah pandangan Abu Darda’ terhadap
harta benda. Ia menasihati sahabatnya agar tidak hanya sibuk
mengumpulkan harta benda dan perhatian yang hanya mengarah pada
masalah itu. Sebab apa yang ia kumpulkan dan dihitung-hitung
itu akan ditinggalkan, mungkin kepada anak yang soleh, sehingga
boleh dinikmati, mungkin pula pada anak derhaka, sehingga dibelanjakan
di jalan yang dimurkai Allah. Manusia seharusnya berusaha dan
berjuang di muka bumi ini tanpa melalaikan ibadah dan merenungkan
keindahan ciptaan Allah.
Di samping Abu Darda’ meninggalkan kemewahan
duniawi, tidak mengambilnya kecuali sekadar mengisi perutnya,
ia juga menolak puterinya bermegah-megah dengan harta kekayaan
di dunia ini. Kehidupan zuhud yang ia tempuh sejak masuk Islam
telah terbiasa bagi keluarganya. Ia menolak jika hatinya dipengaruhi
oleh kesenangan duniawi, seperti halnya ia menolak jika hal
itu terjadi pada puterinya.
Maka ketika Yazid Ibn Muawiyah yang banyak
harta dan berkuasa, melamarnya. Abu Darda’ yang hidup zuhud
dan miskin menolak mengahwinkan puterinya dengan Yazid, si kaya
yang berkuasa. Mengapa? Sebab ia tidak ingin puterinya sibuk
dengan urusan duniawi jika nantinya ia tinggal di istana Bani
Umaiyah. Ia menghendaki puterinya seperti dirinya sendiri yang
takwa, wara’, penuh iman dan akidah.
Sebahagian sahabatnya bertanya, “Kenapa
puterimu tidak engkau kahwinkan dengan Yazid?” Jawabnya: “Bagaimana
pendapatmu nanti kepadaku’, jika puteriku kelak hidup di istana,
dilayani oleh dayang-dayang dan perhiasan istana, lalu pada
saat itu cinta pada agamanya menjadi lenyap?”
Pada saat pemuda dari kalangan kaum miskin
datang kepadanya, meminang puterinya, tanpa ragu-ragu lagi Abu
Darda’ menerimanya untuk dikahwinkan. Sebab jalan lurus yang
ia tempuh tidak menghendaki puterinya melangkah ke jalan yang
salah. Dengan cara hidup lurus seperti zuhud, hidup sederhana
dan meninggalkan kesenangan duniawi itulah Abu Darda’ hidup.
Seorang yang sejak masuk Islamnya telah meninggalkan perniagaan
atau jual beli yang boleh melalaikannya dari berzikir kepada
Allah.
Suatu hari para sahabatnya mendengar ia
berdoa dengan hikmat: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung
kepada-Mu dari hati yang selalu berangan-angan kepada kehidupan
duniawi.”
Abu Darda’ tidak menghendaki sama sekali
terhadap kesenangan duniawi dan kehidupan mewah. Hal ini nampak
ketika Utsman Ibn Affan menunjuknya menjadi hakim di Syam dengan
maksud mengalihkan perhatian masyarakat Islam dari cinta dunia
kepada cinta akhirat. Utsman Ibn Affan melihat bahawa masyarakat
Islam tersebut mulai tenggelam dalam kemewahan dan jatuh dalam
kemegahan.
Kerananya Abu Darda’ mengundang penduduk Syam untuk berkumpul
di masjid seraya berucap:
“Hai penduduk Syam, engkau sekalian adalah saudara seagama bagi
kami. Tetangga dengan rumah kami dan telah menolong dari serangan
musuh. Namun aku lihat engkau suka mengumpulkan harta, membangun
sesuatu yang tidak boleh tetap dan mengangan-angankan sesuatu
yang tidak mungkin tercapai. Orang-orang sebelum engkau mengumpulkan
harta yang bakal mereka tinggalkan, berangan yang bukan-bukan
dan membangun rumah-rumah yang tinggi, lalu yang mereka kumpulkan
itu menjadi binasa. Angan-angannya kosong belaka dan rumah-rumahnya
menjadi perkuburan. Itulah kaum Ad. Mereka memenuhi tempat antara
Ad sampai Yaman dengan banyaknya harta dan anak. Adakah orang
yang akan membeli peninggalan keluarga Ad seharga 2 dirham dariku?”
Abu Darda’ menghendaki agar kaum muslimin
memancarkan jiwa hidup sederhana dan zuhud, sehingga gemerlapnya
dunia tidak sampai menipunya lalu meninggalkan beribadah kepada
Allah.
Di samping Abu Darda’ memiliki hati yang
memancarkan makna ibadah, fikirannya juga memancarkan makna
ilmu. Ia memahami ajaran agama Islam, selalu mencari kebenaran,
berusaha mencapai hakikat dan tiap hari makin bertambah pemahamannya
terhadap Al-Quran dan sunah Rasul-Nya. Dalam hal ini ia berkata:
“Engkau tidak boleh menjadi takwa sebelum berilmu. Sedang ilmu
itu tidak sempurna tanpa amal.”
Abu Darda’, si alim yang mengamalkan ilmunya,
si zahid dan tekun beribadah kepada Allah itu sepanjang hidupnya
berjalan di jalan Allah, sampai riwayatnya berakhir di tanah Mesir.
Tubuhnya bersemayam di suatu makam di kota Iskandariah setelah
Allah menempatkan posisinya dalam kelompok orang-orang yang soleh.
^ Kembali ke atas
^