Memiliki Karamah Sehingga
Mengislamkan Kaumnya
....
alam
kehidupan para sahabat, sering membuat orang kehairanan kerana
karamah Ilahi yang diberikan kepada mereka untuk menolong mereka
dalam menyiarkan agama Allah dan menghapus kejahilan yang membelenggu
akal manusia. Di antara para sahabat ada yang diberi karamah dapat
menyaksikan malaikat yang sedang memukul pasukan kafir di medan
peperangan; seperti Abu Thalhah. Di antara mereka ada yang diberi
karamah Allah melihat malaikat yang menjelma menjadi payung di
atas rumahnya ketika ia membaca Al-Quran, seperti Usaid Ibnu Al-Hudair.
Di antara mereka ada pula yang diberi karamah
Allah, ia dapat menurunkan hujan bila ia menadahkan tangannya
ke langit dan berdoa kepada Allah agar hujan diturunkan, maka
Allah segera mengabulkan doanya, seperti Al-Abbas bapa saudara
Rasulullah SAW.
Di antara mereka ada yang diberi karamah
Allah, tongkat boleh berubah menjadi lampu yang menyinari jalannya
pada malam yang gelap gelita, seperti Thufail Ad-Dausi. Di antara
mereka ada yang mendapat kiriman makanan dari Allah, ketika
ia dipenjara kaum musyrikin, di dalam bilik yang tertutup, seperti
Khabab Ibnu Al-Arat. Di antara mereka ada pula yang setelah
mati syahid jenazahnya dimandikan oleh malaikat seperti Handhalan
Ibn Abi Amir.
Beraneka ragam karamah dari Allah yang diberikan
kepada para sahabat yang disebutkan sejarah Islam di mana kisah-kisahnya
dikuatkan oleh sanad-sanad yang tidak dicampuri oleh keraguan.
Karamah Allah yang diberikan kepada Abu Umamah Al-Bahili telah
menyebabkan kaumnya tercengang kerana takjub. Maka mereka segera
memeluk agama Islam yang didakwahkan Abu Umamah, hati mereka
terbuka untuk menerima cahaya Ilahi, meskipun sebelum itu hati
mereka terbelenggu oleh ajaran jahiliyah yang berisi kesesatan
dan dugaan saja.
Adapun sebab-sebab kaum Abu Umamah masuk
Islam adalah kerana pada suatu hari Suday Ibn Ajlan yang biasa
dipanggil Abu Umamah datang kepada kaumnya dan mengajak mereka
menyembah Allah. Abu Umamah mengisahkan peristiwa yang terjadi
ketika ia bersama kaumnya yang menggembala. Ia berkata: “Ketika
aku datang kepada kaumku, mereka telah memberi minum kambing-kambing
mereka, memerah susunya dan meminumnya.
Ketika mereka melihat kedatanganku, mereka
berkata: “Selamat datang wahai Suday Ibn Ajlan, kami mendengar
bahawa kamu telah cenderung pada Muhammad.” Jawabku: “Tidak,
tetapi aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah
telah mengutus aku kepada kalian supaya menunjukkan Islam kepadamu.”
Ketika aku sedang bersama dengan mereka,
tiba-tiba mereka menghidangkan bekas yang berisi darah, kemudian
mereka berkumpul di sekelilingnya. Mereka berkata kepadaku:
“Wahai Suday Ibn Ajlan, kemarilah.” Aku berkata kepada mereka:
“Celakalah kalian! Aku datang kepadamu sebagai utusan dari orang
yang mengharamkan atas kalian makanan semacam ini kecuali yang
disembelih sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah.”
Mereka bertanya: “Bagaimana bunyi firman-Nya?”
Jawabku. “Telah diturunkan ayat Al-Quran yang menerangkan tentang
makanan yang diharamkan:
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,
(daging haiwan) yang disembelih atas nama selain Allah, (haiwan)
yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang
diterkam binatang buas kecuali sempat kamu sembelih, dan (diharamkan
bagi) yang disembelih untuk berhala.”
(Al-Maidah: 3)
Kemudian aku mengajak mereka kepada Islam,
tetapi mereka menolak, ketika aku kehausan aku berkata kepada
mereka: “Berilah aku minuman air, sungguh aku sangat haus.” Mereka
berkata: “Tidak, kami akan membiarkan kamu mati kehausan.” Setelah
itu aku membungkus kepalaku dengan kain serban kemudian aku tidur
di bawah terik matahari yang sangat panas, dan aku biarkan mereka
makan darah.
Tiba-tiba dalam tidurku aku melihat seseorang
datang kepadaku dengan membawa sebuah bekas yang dibuat dari
kaca; aku tidak pernah melihat bekas yang sebaik itu. Di dalamnya
ada minuman yang menyegarkan yang tak pernah aku dapatkan di
dunia. Aku mengambil bekas itu dan segera meminumnya hingga
aku merasa kenyang. Setelah selesai minum, aku bangun. Demi
Allah sejak saat itu aku tidak pernah haus sama sekali.
Ketika aku kenyang, salah seorang daripada
mereka berkata pada mereka: “Telah datang padamu seorang dari
keluarga kamu, mengapa kamu tidak memberinya makan.” Maka mereka
datang kepadaku dengan membawa segelas susu; maka aku katakan
pada mereka: “Aku tidak perlu lagi minuman ini.” Kemudian aku
memperlihatkan perutku yang sudah kenyang pada mereka, sehingga
mereka akhirnya masuk Islam.” Mereka meninggalkan berhala-berhala
mereka dan masuk Islam. Mereka masuk Islam dengan hati yang
rindu pada cahaya Ilahi dan kesucian agama Islam.
Abu Umamah adalah salah satu dari sahabat
Rasulullah SAW yang dipilih Islam untuk menyampaikan sinar Islam,
ia belajar Islam dari Rasulullah SAW dan ia menjalankan apa
yang diajarkan padanya dengan penuh ketaatan dan kesungguhan.
Pada suatu ketika, ia mendengar Rasulullah
bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan ucapan salam
kesejahteraan untuk umat kita dan jaminan bagi ahli Dhimmah
kita.” Sejak itu Abu Umamah sentiasa memberi salam kepada setiap
yang dijumpainya. Tidaklah ia bertemu dengan seorang muslim
baik itu muslim kecil atau besar, melainkan ia mengucapkan:
“Assalamu’alaikum.”
Tidak seorang pun yang mendahului ia mengucapkan
salam, kecuali hanya sekali saja. Iaitu ketika ada seorang Yahudi
bersembunyi di balik pohon, kemudian Yahudi itu keluar dengan
secara tiba-tiba dan mengucapkan salam padanya.
Maka Abu Umamah berkata padanya: “Celakalah kamu wahai orang
Yahudi, apa yang mendorongmu untuk berbuat demikian?”
Jawab Yahudi itu; “Kamu adalah orang yang banyak mengucapkan
salam, dan aku tahu itu lebih utama, maka aku ingin mendapatkan
keutamaan itu dengan mengucapkan salam lebih dulu.”
Maka jawab Abu Umamah, “Sesungguhnya salam adalah ajaran akhlak
Islam yang diajarkan oleh Rasulullah pada kami.”
Hal lain yang didapatkan oleh Abu Umamah
dari Rasulullah adalah perintah untuk berbakti kepada kedua
orang tuanya. Pada suatu ketika bonda Abu Umamah sedang sakit,
maka baginda menyuruh Abu Umamah supaya tetap mendampingi ibunya
hingga meninggal pada saat peperangan berlangsung. Setelah Rasulullah
SAW memperoleh kemenangan pada peperangan tersebut dan baginda
kembali ke Madinah, maka baginda mendatangi kubur bonda Abu
Umamah dan meminta rahmat bagi almarhumah.
Abu Umamah salah seorang yang berbaiat kepada
Rasulullah pada baiatur Ridwan yang diikrarkan di bawah pohon,
hingga akhirnya kaum musyrikin mengajak berdamai dengan kaum
muslimin yang terkenal dengan “Perjanjian al-Hudaibiyah.” Peristiwa
itu terjadi pada 6 H. Ketika turun firman Allah dalam Al-Quran
surah Al-Fath ayat 18 yang ertinya:
“Sungguh Allah telah reda terhadap orang-orang mukmin ketika
mereka berjanji setia kepada-Mu di bawah pohon, maka Allah telah
mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan
atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kesenangan
yang dekat (waktunya).”
Abu Umamah berkata: “Wahai Rasulullah SAW, aku termasuk orang
yang berbaiat pada-Nya di bawah pohon itu.”
Rasulullah berkata padanya: “Kamu bahagian dari aku dan aku
bahagian dari kamu.”
Abu Umamah sangat haus dengan ilmu pengetahuan;
ketika ia mendengar suatu kalimat dari Rasulullah SAW maka ia
menghafalkan. Ketika ia ditanya tentang rahsia mengapa ia lebih
mengutamakan ilmu daripada berbaiat, ia berkata: “Tatkala Rasulullah
SAW ditanya tentang dua orang, yang satu orang ahli ibadah dan
yang satu seorang ahli ilmu, mana yang lebih utama dari keduanya?
Rasulullah SAW bersabda: “Keutamaan seorang alim atas seorang
ahli ibadah itu, bagaikan keutamaan diriku daripada orang yang
mengajarkan kebaikan kepada orang ramai.” Kemudian baginda membaca
ayat (Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah ulama).
Di antara sifat-sifat yang dimiliki oleh
Abu Umamah Al-Bahili ialah sabar ketika ditimpa musibah, tidak
pernah mengadukan persoalannya kepada orang lain, mensyukuri
nikmat meskipun nikmat itu hanya sedikit. Sifatnya yang penyabar
dan banyak bersyukur melapangkan hatinya dalam menghadapi berbagai
kesusahan, meskipun kesusahan itu lebih berat dari sebuah gunung.
Tapi ia mampu menanggungnya dengan iman yang teguh, kerana ia
tahu, bahawa semua itu telah ditakdirkan Allah atas dirinya.
Harta kekayaan tidak pernah ada ertinya bagi dirinya, oleh kerana
itu ia selalu berpaling dari kesenangan duniawi kerana ia tidak
menyukainya. Sekalipun ia tidak pernah mengunjungi para penguasa
atau gabenor daerah.
Abu Umamah banyak hafal khutbah-khutbah
Rasulullah dan ia senang meriwayatkan khutbah itu dengan nasihatnya
yang benar dan terang.
Ia hidup sampai usia lanjut, keadaan badannya
telah lemah dan kesihatannya telah menurun, meskipun demikian
ia tidak pernah meninggalkan solat berjemaah baik ketika musim
dingin atau pada musim panas. Lisannya tidak pernah dikotori
perbuatan mengumpat atau mengadu domba. Ia tidak pernah membiarkan
sesuatu masuk dalam fikirannya kecuali hanya Allah.
Ia berkisah pada suatu hari, ia meminta
Rasulullah agar baginda menyuruhnya melakukan sesuatu amalan
yang bermanfaat bagi dirinya di sisi Allah. Maka Rasulullah
SAW bersabda padanya: “Hendaklah kamu sentiasa berpuasa, kerana
pahala puasa tiada bandingan.” Sejak itu Abu Umamah berserta
keluarga dan pelayannya selalu berpuasa. Dan mereka hanya memakan
roti kering dan garam, mereka tidak menyalakan api kecuali bila
ada tamu.
Abu Umamah belum merasa cukup dengan hanya
berpuasa setahun, setelah itu ia datang pada Rasulullah SAW
dan berkata pada baginda: “Wahai Rasulullah, engkau telah menyuruhku
mengerjakan amalan (puasa), kini aku berharap agar Allah memberi
manfaat padaku dengan amalan itu.” Rasulullah SAW bersabda padanya:
“Ketahuilah, bahawa kamu tidak akan bersujud pada Allah sekalipun
melainkan Allah akan mengangkat darjatmu dengan sujud itu atau
Dia akan menghapus dosa-dosamu kerana sujud itu.”
Meskipun Abu Umamah orang yang tidak kaya,
tetapi ia seorang dermawan, ia sering memberikan apa saja yang
ada padanya. Ia tidak peduli apakah ada sesuatu yang untuk dimakan
pada hari ini atau tidak, bahkan ia tidak pernah memberikan
roti atau bawang jika tidak ada sesuatu yang lain untuk diberikan.
Isterinya meriwayatkan: “Pada suatu hari di rumahnya tidak ada
apa pun kecuali hanya wang 3 dinar. Tiba-tiba ada seorang pengemis
di depan rumah, maka ia memberinya pengemis 1 dinar. Kemudian
datang pula pengemis lain maka ia memberikan satu dinar, dan
begitu juga untuk pengemis yang ketiga datang.
Akhirnya aku marah dan berkata padanya:
“Kita sudah tidak memiliki apa-apa.” Maka kemudian ia berbaring
di atas tempat tidur dan menutup pintu sampai azan Zuhur. Aku
datang padanya dan membangunkannya, maka ia pergi ke masjid
dalam keadaan berpuasa, sehingga aku kasihan padanya, maka aku
meminjam wang untuk membeli makanan untuknya berbuka.
Ketika aku menyiapkan lampu dan makan malam,
ia berkata: “Hidangan ini lebih enak daripada yang lain.” Setelah
ia baru selesai makan malam, tiba-tiba salah seorang sahabatnya
datang dan berkata padanya: “Wahai Abu Umamah, ini wang sejumlah
3,000 dinar sebagai keuntungan pinjaman dari wang yang aku pinjam
darimu beberapa tahun yang lalu.” Maka ia menatapkan wajahnya
ke langit sambil berbisik: “Wang satu dinar dibalas dengan seribu
dinar, alangkah besarnya balasan Zat Tuhan Yang Maha Pemurah.”
Pada tahun 86 H. Abu Umamah meninggal dunia
menuju kampung akhirat untuk menikmati kehidupan di hadirat Allah,
dengan memperoleh balasan sebagai orang mukmin, ahli ibadah, penyabar
dan orang yang bersyukur.
^ Kembali ke atas
^
Kesalahannya Dimaafkan
Rasulullah Kerana Ia Perajurit Badar
Di Makkah ia tidak mempunyai kedudukan yang
tinggi kerana ia bukan dari keluarga bangsawan, juga bukan dari
keluarga pembesar, bukan hartawan dan bukan pedagang. Tujuan hidupnya
yang utama adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan itu telah
memberinya kemuliaan dan kehormatan. Di antara penghormatan Rasulullah
SAW kepada Hatib iaitu baginda SAW telah mengutus ia agar datang
kepada Al-Muqauqis, seorang pembesar suku Qibti dari Mesir, untuk
menyampaikan surat Rasulullah yang isinya menyeru pada Al-Muqauqis
ke dalam Islam.
Setelah Al-Muqauqis membaca surat baginda
tersebut dengan cermat, ia memandang Hatib dan bertanya padanya:
“Bukankah sahabatmu itu seorang Nabi?” Jawab Hatib. “Benar,
baginda adalah utusan Allah.” Mendengar jawapan Hatib, Al-Muqauqis
mengirimkan beberapa hadiah kepada Rasulullah SAW di antara
hadiah itu seorang hamba wanita bernama Mariyah Al-Qibtiyah.
Hatib Ibnu Balta’ah adalah seorang penduduk
Yaman, ia adalah sahabat kepada Zubair Ibnu Awwam. Ketika ia
berhijrah ke Madinah, ia meninggalkan anak dan saudara-saudaranya.
Pada masa jahiliyah, ia seorang penunggang kuda yang berani
dan penyair ulung. Bait-bait syairnya sering disebarkan oleh
para perawi dan dilagukan para kafilah dagang Arab. Ia masuk
Islam ketika ia masih muda belia. Dan ia sangat tekun mempelajari
syariat Islam dan ajarannya ketika ia masih muda. Selain itu
pada perang Badar, ia turut bergabung dalam jihad fisabilillah;
dan ia juga ikut bersama Rasulullah pergi ke Al-Hudaibiyah dan
menyaksikan “Baiatur Ridwan.”
Pada tahun 8 H. di saat Rasulullah SAW sedang
sibuk mempersiapkan penaklukan kota Makkah sebagaimana yang
telah dijanjikan oleh Allah, ketika itu fikiran Hatib gundah
gulana. Ia sedih memikirkan anak-anaknya dan keluarganya yang
tidak aman daripada penganiayaan kaum Quraisy, kerana di Makkah
mereka tidak mempunyai pelindung yang dapat melindungi dan menjaga
mereka daripada musuh-musuh Islam. Bisikan-bisikan syaitan selalu
menggoda fikirannya hingga ia merasa kalut, dan fikirannya buntu.
Maka ia memutuskan akan mendekati kaum musyrikin Quraisy dengan
memberitahu pada mereka mengenai rahsia-rahsia kekuatan senjata
yang telah dipersiapkan Rasulullah untuk penaklukan besar atas
kota Makkah.
Tidak pernah terfikirkan olehnya, bahawa
perbuatan itu merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya,
dan bahawa rahsia askar adalah amanat yang ada di bahu para
perajurit. Bila salah satu rahsia sampai dibocorkan, maka perajurit
tersebut akan mendapat amarah dari Allah, malaikat-Nya dan semua
kaum muslimin, kerana ia membocorkan rahsia kekuatan askar yang
akan menghadapkan pasukannya pada bahaya dan sekaligus menghadapkan
tanah air pada kebinasaan.
Itulah langkah yang terburuk dalam kehidupan
Hatib Ibnu Balta’ah. Ia bertekad untuk memberitahu kaum Quraisy
tentang askar Islam yang telah dipersiapkan Rasulullah SAW.
Cahaya iman telah padam di hatinya. Ia tidak lagi memikirkan
keagungan akidah. Maka dengan tangan gementar ia mulai menulis
surat kepada pembesar-pembesar Quraisy, membuka rahsia askar
Islam yang dipersiapkan secara matang oleh Rasulullah ke Makkah,
agar mereka mempunyai gambaran atas keadaan kaum muslimin Madinah.
Surat itu diserahkan kepada seorang wanita.
Ia menyuruh wanita tersebut agar merahsiakan surat itu di sanggul
rambutnya sehingga jika ada orang yang menghadang kenderaannya,
maka surat itu tidak akan diketahui. Ia berjanji pada wanita
itu akan memberi hadiah yang mahal bila surat itu telah sampai
di tangan pembesar Quraisy.
Baru saja wanita tersebut meninggalkan Madinah, malaikat Jibril
segera memberitahu Rasulullah tentang apa yang telah dilakukan
Hatib. Maka Rasulullah cepat-cepat memanggil Ali Ibn Abi Thalib
dan Zubair Ibn Awwam. Baginda berkata: “Kejarlah wanita itu,
ia memberitahu surat Hatib untuk para pembesar Quraisy yang
isinya menerangkan mereka tentang persiapan yang telah kita
himpun dalam menaklukkan mereka.”
Ali dan Zubair bergegas keluar mencari wanita
itu dan keduanya menemukan wanita tersebut di daerah Raudhah
Khah, 7 batu dari Madinah. Ketika Ali ra. menyuruh wanita itu
supaya mengeluarkan surat Hatib, wanita itu tidak mengaku kalau
ia sedang membawa surat. Maka Ali pun berdiri dan memeriksa
kenderaannya, tetapi ia tidak menemukan surat itu.
Akhirnya dengan marah Ali memandang wanita
itu dan berkata: “Aku bersumpah kepada Allah bahawa Rasulullah
tidak pernah berdusta. Sekarang kamu harus pilih apakah kamu
mahu menyerahkan surat itu kepadaku, ataukah aku harus menelanjangi
kamu!” Setelah Ali bersikap kasar dan memberi dua pilihan, akhirnya
wanita itu berkata: “Berpalinglah.” Setelah itu Ali membalikkan
badan kemudian wanita itu membuka ikatan rambutnya dan mengeluarkan
surat darinya, lalu menyerahkan surat itu kepada Ali.
Ali dan Zubair segera kembali kepada Rasulullah
dengan membawa surat Hatib. Rasulullah menghadirkan Hatib Ibn
Abu Balta’ah dan bertanya kepadanya, “Wahai Hatib, apa yang
mendorong kamu berbuat demikian?” Maka oleh Hatib dijawab dengan
nada terputus-putus: “Wahai Rasulullah, janganlah tergesa-gesa
menghukum diriku. Semua itu kulakukan kerana aku bukan dari
golongan Quraisy, di Makkah aku masih mempunyai sanak saudara.
Maka aku ingin kaum Quraisy menjaga keluargaku di Makkah. Dan
sungguh, itu aku lakukan bukan kerana aku telah murtad dari
Islam, dan bukan pula aku rela kepada kekufuran sesudah iman.”
Rasulullah memandang semua sahabat yang hadir dengan wajah
bersinar, dan baginda berkata kepada mereka: “Bagaimana pun
juga, ia telah berkata jujur.”
Suasana majlis menjadi hening sejenak, tiba-tiba Umar berkata:
“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang munafik
ini.”
Umar berpandangan bahawa membocorkan rahsia-rahsia
askar Islam merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya,
maka balasannya adalah harus dibunuh. Orang yang mengadakan
hubungan dengan musuh, maka balasannya adalah dijatuhi hukuman
mati.
Sementara itu Rasulullah telah memaafkan
Hatib kerana ia telah mengakui dosanya. Selain itu baginda mengingat
perjuangan Hatib di masa lalu kerana ia berjuang di medan perang
Badar, sehingga banyak pasukan musyrikin yang mati di bawah
tebasan pedangnya. Ia berani menghadapi bahaya dengan menerjah
barisan musuh. Rasulullah juga mengingat posisi Hatib pada hari
Bai’atur Ridwan di bawah sebuah pohon yang diberkahi, di mana
pada saat itu para malaikat menyaksikan orang-orang mukmin yang
sedang mengulurkan tangan mereka untuk berbaiat kepada Rasulullah.
Atas tiga dasar itu, maka baginda memandang
Umar dan berkata: “Wahai Umar bagaimana pendapatmu, jika Allah
telah memberi kelonggaran pada pejuang Badar?” Allah berfirman
dalam Al-Ouran surah Al-Mumtahanah ayat 1 yang ertinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan
musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia, (sehingga) kamu
menyampaikan kepada mereka (berita-berita) Muhammad, dikeranakan
rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka ingkar kepada
kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasulullah dan
(mengusir) kamu kerana kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika
kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku. Kamu memberitahukan
secara rahsia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, kerana
kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan
dan apa yang kamu nyatakan. Barangsiapa di antara kamu yang
melakukan, maka sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan lurus.”
Hal lain yang menguatkan diterimanya taubat
Hatib; pada suatu hari salah seorang pelayan Hatib datang kepada
Rasulullah untuk mengadukan perlakuan Hatib kepadanya, kemudian
pelayan itu berkata: “Wahai Rasulullah, kelak sungguh Hatib akan
masuk neraka.” Tetapi Rasulullah berkata: “Tidak, kerana ia ikut
berperang pada peristiwa Badar dan juga ikut dalam perjanjian
Hudaibiyah.”
Sejak saat itu, Hatib menangis menyesali perbuatannya.
Siang dan malam dilakukan dengan selalu memohon ampunan kepada
Allah atas kesesatannya hingga ia meninggal dunia pada usia 53
tahun tepatnya pada tahun 30 H. iaitu pada masa pemerintahan Usman
Ibn Affan. Ia menghadapi kematian dengan jiwa yang redha kerana
ia tahu bahawa Rasulullah telah memaafkannya meskipun ia telah
mengkhianati hak Allah, Rasulullah dan kaum mukminin.
^ Kembali ke atas
^
Ia Mengetahui Sifat Rasulullah
dalam Kitab Taurat
Ketika Abdullah Ibn Salam berhadapan dengan
Rasulullah, hati dan fikirannya langsung terbuka menyambut seruan
Islam. Ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Abdullah Ibn Salam
adalah keturunan dari Yusuf Ibn Ya’qub. Pada masa jahiliyah ia
bernama Al-Husein. Tetapi setelah Islam, Rasulullah menggantinya
dengan nama Abdullah.
Dalam kitab Taurat, ia telah membaca sifat-sifat
Rasulullah dan terus mengingatnya dalam fikiran. Ketika Rasulullah
berhijrah ke Madinah, dan ketika Islam memancarkan sinarnya
di rumah-rumah kaum Ansar dan kaum Muhajirin, maka penduduk
Madinah yang ramai masuk Islam, di antara mereka adalah Abdullah
Ibn Salam. Ia datang pada Rasulullah untuk menyampaikan maksud
hatinya. Selain itu ia ingin melihat sifat-sifat baginda.
Baru saja ia duduk di hadapan Rasulullah,
ia dapat melihat sifat baginda yang sempurna sebagaimana yang
telah diberitakan dalam kitab suci Taurat. Maka tanpa ragu-ragu,
ia langsung mengucapkan dua kalimah syahadat. Masuknya Abdullah
Ibn Salam ke dalam Islam merupakan awal terbukanya topeng rahsia
kejahatan Yahudi terhadap Rasulullah dan Islam.
Abdullah Ibn Salam lebih mengetahui sifat-sifat
kaum Yahudi yang pengkhianat, penipu dan pembohong. Abdullah
hendak memberitahu Rasulullah mengenai akhlak kaum Yahudi, mereka
adalah kaum yang menyimpang dari kebenaran, suka berdebat di
atas dasar kebatilan, suka menentang seruan para Rasul. Hati
mereka selalu memendam tipu daya dan lisan mereka selalu mengatakan
kebohongan. Abdulllah berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya
kaum Yahudi itu biasa berdusta, maka jika mereka mengetahui
aku masuk Islam, nescaya mereka akan memburuk-burukkan aku di
hadapanmu. Kerana itu, utuslah seseorang agar memanggil mereka
kemudian tanyakan mereka tentang diriku.”
Rasulullah mengutus seseorang sahabat agar
mengundang orang-orang Yaduhi. Ketika beberapa orang Yahudi
datang, Abdullah Ibn Salam bersembunyi di ruang lain. Kemudian
Rasulullah bertanya kepada mereka: “Wahai kaum Yahudi, bagaimana
pendapat kalian tentang Abdullah Ibn Salam?” Jawab mereka: “Ia
orang terbaik di kalangan kami dan ia anak orang terbaik. Ia
ulama kami dan anak ulama kami. Ia orang terpandai di kalangan
kami dan ia anak orang terpandai.”
Kemudian Rasulullah berkata lagi: “Bagaimana pendapat kalian
jika ia masuk Islam, apakah kamu akan mengikuti ia masuk Islam?”
Jawab mereka dengan keras: “Semoga Allah melindungi ia dari
agama Islam.”
Sejenak setelah suasana menjadi hening,
tiba-tiba Abdullah Ibn Salam keluar sambil membaca dua kalimah
syahadat. Orang-orang Yahudi saling memandang satu dengan yang
lain, kemudian mereka berkata: “Abdullah itu orang jahat dan
ia anak orang jahat. Ia orang bodoh dan anak orang bodoh.” Abdullah
berkata kepada Rasulullah: “Inilah yang aku khuatirkan dari
mereka.”
Posisi orang Yahudi di hadapan Rasulullah
bagaikan telur di hujung tanduk kerana dalam satu majlis mereka
telah mengatakan dua pendapat. Apa pun yang dikatakan mereka
tentang diri Abdullah Ibn Salam, setelah Abdullah mengucapkan
dua kalimat syahadat di hadapan mereka, semua itu tidak menggoyahkan
iman Abdullah, bahkan ia semakin teguh beriman dan meyakininya.
Ia tetap di jalan Islam.
Sejak saat itu, ia selalu datang ke majlis
Rasulullah untuk mendengarkan pengajaran baginda dan menghafal
Al-Quran sedikit demi sedikit serta mendalami Islam hingga ia
menjadi salah seorang ulama Islam. Ia merupakan tempat kaum
muslimin bertanya dan menerima fatwa. Kesaksian yang memperkuat
hal itu adalah Mu’adz lbn Jabal kepada kawannya, ketika ia sedang
sakit yang menyebabkan kematiannya, iaitu ketika salah seorang
kawannya menjenguknya, maka kawan itu menangis manakala melihat
keadaan Mu’adz yang sedang sakit kuat. Melihat keadaan itu,
maka Mu’adz bertanya: “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Jawab
kawan itu: “Kerana ilmu pengetahuan yang kuperoleh darimu, maka
siapakah penggantimu kelak?” Mu’adz berpesan: “Bila aku meninggal,
maka tuntutlah ilmu dari empat orang ini: “Abdullah Ibn Mas’ud,
Abdullah Ibn Salam, Salman Al-Farisi, dan Abu Darda’.”
Pada suatu malam Abdullah Ibn Salam bermimpi,
ia berada di suatu taman, di tengah taman itu terdapat tiang
terbuat dari besi. Pangkal tongkat tersebut menancap kuat di
bumi. Sedangkan hujungnya menjulang ke langit. Di hujungnya
ada tali. Tiba-tiba ia mendengar seseorang berkata: “Wahai Abdullah,
naiklah.”
Jawabnya: “Aku tidak boleh.” Tiba-tiba datang
seseorang dari belakangnya dan menyorong hingga ia dapat memegang
tali tiang itu. Setelah ia mengisahkan mimpinya kepada Rasulullah,
Rasulullah bersabda: “Taman itu melambangkan Islam, tiang itu
adalah tiang Islam, dan tali itu adalah tali Islam yang kuat.
Kamu akan tetap di jalan Islam sampai kamu mati.”
Beberapa sahabat terkemuka mengisahkan keutamaan-keutamaan
Abdullah Ibn Salam. Mu’adz Ibn Jabal berkata: “Aku telah mendengar
Rasulullah bersabda berkenaan dengan Abdullah Ibn Salam: “Sungguh
Abdullah Ibn Salam adalah salah seorang dari sepuluh orang yang
telah dijamin masuk syurga.”
Dalam riwayat lain, Sa’ad Ibn Abi Waqqash
berkata: “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah bersabda berkaitan
dengan seseorang dengan ucapan, “Sesungguhnya ia termasuk golongan
ahli syurga, melainkan berkaitan dengan Abdullah Ibn Salam.”
Sebahagian ahli tafsir mengatakan bahawa
firman Allah dalam surah Al-Ahqaf ayat 1 yang ertinya: “Dan
seorang Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan
(yang tersebut dalam) Al-Quran kemudian ia beriman, sedangkan
kamu menyombongkan diri.” Yang dimaksud saksi dari Bani Israil
dalam ayat tersebut adalah Abdullah Ibn Salam.
Dalam Sahih Bukhari dan Muslim, dari Qais
Ibn Ubadah berkata: “Ketika aku duduk di masjid Madinah bersama
orang ramai, di antara mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah.
Tiba-tiba seseorang datang yang di wajahnya terdapat tanda-tanda
kekhusyukan, ia bernama Abdullah Ibn Salam. Ketika melihat dia,
salah seorang berkata: “Orang ini termasuk ahli syurga.” Kemudian
Abdullah solat dua rakaat, setelah itu ia keluar. Aku mengikutinya
sampai ia masuk rumahnya. Maka aku pun ikut masuk rumah di belakangnya.
Kemudian aku memberitahukan kepadanya tentang apa yang dikatakan
seseorang mengenai dirinya. Ia berkata: “Tidak selayaknya seseorang
mengatakan apa yang tidak diketahuinya.”
Abdullah Ibn Salam sangat khusyuk dalam
solatnya, alim dan mengerti dalam masalah-masalah agama. Ia
hafal Al-Quran dan Taurat. Di majlis Rasulullah ia selalu merendahkan
suaranya. Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, ia sangat
merendahkan diri. Pada suatu ketika, ia berada di pasar dengan
mengangkat seikat kayu bakar; ketika ditanya tentang: “Apa yang
menyebabkan kamu membawa kayu bakar di pasar, padahal Allah
telah memperkaya kamu tanpa itu?” Jawabnya: “Aku hendak menghilangkan
rasa takburku. Kerana aku telah mendengar Rasulullah bersabda:
“Seseorang tidak akan masuk syurga jika dalam hatinya ada sebesar
biji sawi rasa takbur.”
Demikian itulah pengaruh dasar-dasar Islam
dalam peribadi Abdullah. Perilakunya merupakan penerapan dari
kitab Allah dan sunah Rasulullah. Maka dari itu, ia tidak pernah
ragu-ragu dan ia selalu menjauhkan diri dari hal-hal yang meragukan
dan meninggalkan yang samar-samar. Peribadinya selalu mencerminkan
akhlak Islam yang luhur. Ia sangat mencintai persatuan kaum
muslimin.
Ketika rusuhan di tengah kaum muslimin berkobar
dan khalifah Usman Ibn Affan dikepung kaum pemberontak, suasana
waktu itu sangat memerlukan seseorang yang bijaksana untuk meredakan
kerusuhan sebelum makin menjadi-jadi. Pada saat itulah Abdullah
Ibn Salam datang ke rumah khalifah Usman. Ketika khalifah Usman
melihat Abdullah Ibn Salam ia bertanya: “Wahai Abdullah Ibn
Salam, apa sebab kamu datang kemari?” Jawabnya: “Aku datang
untuk mempertahankan dirimu sampai aku mati syahid atau Allah
akan memberikan kemenangan bagimu.
Kerana aku melihat mereka akan membunuhmu.
Jika mereka membunuhmu, maka hal itu merupakan kebaikan bagimu
dan keburukan bagi mereka.”
Usman berkata: “Aku meminta kepadamu kerana hakku atas dirimu,
keluarlah kepada mereka.”
Ketika Abdullah keluar, para pemberontak
mengira bahawa Abdullah datang dengan khabar gembira bagi mereka.
Ternyata Abdullah sendiri di tengah-tengah mereka dan berkhutbah,
“Janganlah melawan khalifah dengan membunuhnya. Demi Allah,
tidak ada seseorang dari kamu yang membunuhnya kecuali pada
hari kiamat nanti pembunuh tersebut akan menghadap Allah dengan
tangan terputus dan lumpuh. Ketahuilah bahawa tidak ada hak
bagi orang tua atas anaknya, kecuali khalifah ini. Ia mempunyai
hak atas kalian. Mendengar ceramah itu, para pemberontak berteriak:
“Wahai Yahudi kamu telah berdusta. Kamu telah berdusta.” Abdullah
menjawab: “Demi Allah kalian yang berdusta, dan kalian telah
berbuat dosa. Aku bukan orang Yahudi dan sungguh aku seorang
muslim. Allah mengetahui hal itu, demikian pula Rasul-Nya dan
orang-orang mukmin. Dalam Al-Quran telah disebutkan bahawa:
“Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu dan antara
orang yang mempunyai ilmu al-kitab.”
(Al-Ra’d: 43)
Abdullah Ibn Salam diberi
Allah umur panjang. Setelah ia tua dan keadaan badannya sudah lemah,
ia berkata kepada Salman Al-Farisi, sahabat karibnya: “Siapa di
antara kita yang mati lebih dahulu, maka hendaknya ia menyampaikan
khabar akhirat kepada yang masih hidup.” Dan Allah telah menghendaki
Salman berangkat ke kampung akhirat lebih dahulu. Kemudian pada
suatu malam, Abdullah Ibn Salam mimpi bertemu Salman, maka ia bertanya:
“Hendaknya kamu selalu bertawakal, kerana aku telah mendapat sesuatu
yang mengkagumkan dalam tawakal.”
Pada masa pemerintahan Muawiyah (43 H.),
Abdullah Ibn Salam meninggal dunia dalam keadaan redha dan diredai
Allah setelah ia menjalani kehidupan yang diwarnai oleh ketakwaan
dan disinari oleh cahaya keimanan.
^ Kembali ke atas
^