Profil
Iklan Darul Nu'man
Laman Utama
Laman UtamaPANAS!!!Senarai Buku Terbitan DNAWAS!!!Borang PesananMutiara HikmahJemput LayarSampaikan Temanku

Undur
Kisah 049
Maju

 

Tajuk:

 

Memiliki Karamah Sehingga Mengislamkan Kaumnya

 ....alam kehidupan para sahabat, sering membuat orang kehairanan kerana karamah Ilahi yang diberikan kepada mereka untuk menolong mereka dalam menyiarkan agama Allah dan menghapus kejahilan yang membelenggu akal manusia. Di antara para sahabat ada yang diberi karamah dapat menyaksikan malaikat yang sedang memukul pasukan kafir di medan peperangan; seperti Abu Thalhah. Di antara mereka ada yang diberi karamah Allah melihat malaikat yang menjelma menjadi payung di atas rumahnya ketika ia membaca Al-Quran, seperti Usaid Ibnu Al-Hudair.

    Di antara mereka ada pula yang diberi karamah Allah, ia dapat menurunkan hujan bila ia menadahkan tangannya ke langit dan berdoa kepada Allah agar hujan diturunkan, maka Allah segera mengabulkan doanya, seperti Al-Abbas bapa saudara Rasulullah SAW.

    Di antara mereka ada yang diberi karamah Allah, tongkat boleh berubah menjadi lampu yang menyinari jalannya pada malam yang gelap gelita, seperti Thufail Ad-Dausi. Di antara mereka ada yang mendapat kiriman makanan dari Allah, ketika ia dipenjara kaum musyrikin, di dalam bilik yang tertutup, seperti Khabab Ibnu Al-Arat. Di antara mereka ada pula yang setelah mati syahid jenazahnya dimandikan oleh malaikat seperti Handhalan Ibn Abi Amir.

    Beraneka ragam karamah dari Allah yang diberikan kepada para sahabat yang disebutkan sejarah Islam di mana kisah-kisahnya dikuatkan oleh sanad-sanad yang tidak dicampuri oleh keraguan. Karamah Allah yang diberikan kepada Abu Umamah Al-Bahili telah menyebabkan kaumnya tercengang kerana takjub. Maka mereka segera memeluk agama Islam yang didakwahkan Abu Umamah, hati mereka terbuka untuk menerima cahaya Ilahi, meskipun sebelum itu hati mereka terbelenggu oleh ajaran jahiliyah yang berisi kesesatan dan dugaan saja.

    Adapun sebab-sebab kaum Abu Umamah masuk Islam adalah kerana pada suatu hari Suday Ibn Ajlan yang biasa dipanggil Abu Umamah datang kepada kaumnya dan mengajak mereka menyembah Allah. Abu Umamah mengisahkan peristiwa yang terjadi ketika ia bersama kaumnya yang menggembala. Ia berkata: “Ketika aku datang kepada kaumku, mereka telah memberi minum kambing-kambing mereka, memerah susunya dan meminumnya.

    Ketika mereka melihat kedatanganku, mereka berkata: “Selamat datang wahai Suday Ibn Ajlan, kami mendengar bahawa kamu telah cenderung pada Muhammad.” Jawabku: “Tidak, tetapi aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah telah mengutus aku kepada kalian supaya menunjukkan Islam kepadamu.”

    Ketika aku sedang bersama dengan mereka, tiba-tiba mereka menghidangkan bekas yang berisi darah, kemudian mereka berkumpul di sekelilingnya. Mereka berkata kepadaku: “Wahai Suday Ibn Ajlan, kemarilah.” Aku berkata kepada mereka: “Celakalah kalian! Aku datang kepadamu sebagai utusan dari orang yang mengharamkan atas kalian makanan semacam ini kecuali yang disembelih sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah.”

Mereka bertanya: “Bagaimana bunyi firman-Nya?”

Jawabku. “Telah diturunkan ayat Al-Quran yang menerangkan tentang makanan yang diharamkan: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging haiwan) yang disembelih atas nama selain Allah, (haiwan) yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas kecuali sempat kamu sembelih, dan (diharamkan bagi) yang disembelih untuk berhala.”

(Al-Maidah: 3)
    Kemudian aku mengajak mereka kepada Islam, tetapi mereka menolak, ketika aku kehausan aku berkata kepada mereka: “Berilah aku minuman air, sungguh aku sangat haus.” Mereka berkata: “Tidak, kami akan membiarkan kamu mati kehausan.” Setelah itu aku membungkus kepalaku dengan kain serban kemudian aku tidur di bawah terik matahari yang sangat panas, dan aku biarkan mereka makan darah.

    Tiba-tiba dalam tidurku aku melihat seseorang datang kepadaku dengan membawa sebuah bekas yang dibuat dari kaca; aku tidak pernah melihat bekas yang sebaik itu. Di dalamnya ada minuman yang menyegarkan yang tak pernah aku dapatkan di dunia. Aku mengambil bekas itu dan segera meminumnya hingga aku merasa kenyang. Setelah selesai minum, aku bangun. Demi Allah sejak saat itu aku tidak pernah haus sama sekali.

    Ketika aku kenyang, salah seorang daripada mereka berkata pada mereka: “Telah datang padamu seorang dari keluarga kamu, mengapa kamu tidak memberinya makan.” Maka mereka datang kepadaku dengan membawa segelas susu; maka aku katakan pada mereka: “Aku tidak perlu lagi minuman ini.” Kemudian aku memperlihatkan perutku yang sudah kenyang pada mereka, sehingga mereka akhirnya masuk Islam.” Mereka meninggalkan berhala-berhala mereka dan masuk Islam. Mereka masuk Islam dengan hati yang rindu pada cahaya Ilahi dan kesucian agama Islam.

    Abu Umamah adalah salah satu dari sahabat Rasulullah SAW yang dipilih Islam untuk menyampaikan sinar Islam, ia belajar Islam dari Rasulullah SAW dan ia menjalankan apa yang diajarkan padanya dengan penuh ketaatan dan kesungguhan.

    Pada suatu ketika, ia mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan ucapan salam kesejahteraan untuk umat kita dan jaminan bagi ahli Dhimmah kita.” Sejak itu Abu Umamah sentiasa memberi salam kepada setiap yang dijumpainya. Tidaklah ia bertemu dengan seorang muslim baik itu muslim kecil atau besar, melainkan ia mengucapkan: “Assalamu’alaikum.”

    Tidak seorang pun yang mendahului ia mengucapkan salam, kecuali hanya sekali saja. Iaitu ketika ada seorang Yahudi bersembunyi di balik pohon, kemudian Yahudi itu keluar dengan secara tiba-tiba dan mengucapkan salam padanya.

Maka Abu Umamah berkata padanya: “Celakalah kamu wahai orang Yahudi, apa yang mendorongmu untuk berbuat demikian?”

Jawab Yahudi itu; “Kamu adalah orang yang banyak mengucapkan salam, dan aku tahu itu lebih utama, maka aku ingin mendapatkan keutamaan itu dengan mengucapkan salam lebih dulu.”

Maka jawab Abu Umamah, “Sesungguhnya salam adalah ajaran akhlak Islam yang diajarkan oleh Rasulullah pada kami.”

    Hal lain yang didapatkan oleh Abu Umamah dari Rasulullah adalah perintah untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Pada suatu ketika bonda Abu Umamah sedang sakit, maka baginda menyuruh Abu Umamah supaya tetap mendampingi ibunya hingga meninggal pada saat peperangan berlangsung. Setelah Rasulullah SAW memperoleh kemenangan pada peperangan tersebut dan baginda kembali ke Madinah, maka baginda mendatangi kubur bonda Abu Umamah dan meminta rahmat bagi almarhumah.

    Abu Umamah salah seorang yang berbaiat kepada Rasulullah pada baiatur Ridwan yang diikrarkan di bawah pohon, hingga akhirnya kaum musyrikin mengajak berdamai dengan kaum muslimin yang terkenal dengan “Perjanjian al-Hudaibiyah.” Peristiwa itu terjadi pada 6 H. Ketika turun firman Allah dalam Al-Quran surah Al-Fath ayat 18 yang ertinya: “Sungguh Allah telah reda terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepada-Mu di bawah pohon, maka Allah telah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kesenangan yang dekat (waktunya).” Abu Umamah berkata: “Wahai Rasulullah SAW, aku termasuk orang yang berbaiat pada-Nya di bawah pohon itu.”

Rasulullah berkata padanya: “Kamu bahagian dari aku dan aku bahagian dari kamu.”

    Abu Umamah sangat haus dengan ilmu pengetahuan; ketika ia mendengar suatu kalimat dari Rasulullah SAW maka ia menghafalkan. Ketika ia ditanya tentang rahsia mengapa ia lebih mengutamakan ilmu daripada berbaiat, ia berkata: “Tatkala Rasulullah SAW ditanya tentang dua orang, yang satu orang ahli ibadah dan yang satu seorang ahli ilmu, mana yang lebih utama dari keduanya? Rasulullah SAW bersabda: “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah itu, bagaikan keutamaan diriku daripada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang ramai.” Kemudian baginda membaca ayat (Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama).

    Di antara sifat-sifat yang dimiliki oleh Abu Umamah Al-Bahili ialah sabar ketika ditimpa musibah, tidak pernah mengadukan persoalannya kepada orang lain, mensyukuri nikmat meskipun nikmat itu hanya sedikit. Sifatnya yang penyabar dan banyak bersyukur melapangkan hatinya dalam menghadapi berbagai kesusahan, meskipun kesusahan itu lebih berat dari sebuah gunung. Tapi ia mampu menanggungnya dengan iman yang teguh, kerana ia tahu, bahawa semua itu telah ditakdirkan Allah atas dirinya. Harta kekayaan tidak pernah ada ertinya bagi dirinya, oleh kerana itu ia selalu berpaling dari kesenangan duniawi kerana ia tidak menyukainya. Sekalipun ia tidak pernah mengunjungi para penguasa atau gabenor daerah.

    Abu Umamah banyak hafal khutbah-khutbah Rasulullah dan ia senang meriwayatkan khutbah itu dengan nasihatnya yang benar dan terang.

    Ia hidup sampai usia lanjut, keadaan badannya telah lemah dan kesihatannya telah menurun, meskipun demikian ia tidak pernah meninggalkan solat berjemaah baik ketika musim dingin atau pada musim panas. Lisannya tidak pernah dikotori perbuatan mengumpat atau mengadu domba. Ia tidak pernah membiarkan sesuatu masuk dalam fikirannya kecuali hanya Allah.

    Ia berkisah pada suatu hari, ia meminta Rasulullah agar baginda menyuruhnya melakukan sesuatu amalan yang bermanfaat bagi dirinya di sisi Allah. Maka Rasulullah SAW bersabda padanya: “Hendaklah kamu sentiasa berpuasa, kerana pahala puasa tiada bandingan.” Sejak itu Abu Umamah berserta keluarga dan pelayannya selalu berpuasa. Dan mereka hanya memakan roti kering dan garam, mereka tidak menyalakan api kecuali bila ada tamu.

    Abu Umamah belum merasa cukup dengan hanya berpuasa setahun, setelah itu ia datang pada Rasulullah SAW dan berkata pada baginda: “Wahai Rasulullah, engkau telah menyuruhku mengerjakan amalan (puasa), kini aku berharap agar Allah memberi manfaat padaku dengan amalan itu.” Rasulullah SAW bersabda padanya: “Ketahuilah, bahawa kamu tidak akan bersujud pada Allah sekalipun melainkan Allah akan mengangkat darjatmu dengan sujud itu atau Dia akan menghapus dosa-dosamu kerana sujud itu.”

    Meskipun Abu Umamah orang yang tidak kaya, tetapi ia seorang dermawan, ia sering memberikan apa saja yang ada padanya. Ia tidak peduli apakah ada sesuatu yang untuk dimakan pada hari ini atau tidak, bahkan ia tidak pernah memberikan roti atau bawang jika tidak ada sesuatu yang lain untuk diberikan. Isterinya meriwayatkan: “Pada suatu hari di rumahnya tidak ada apa pun kecuali hanya wang 3 dinar. Tiba-tiba ada seorang pengemis di depan rumah, maka ia memberinya pengemis 1 dinar. Kemudian datang pula pengemis lain maka ia memberikan satu dinar, dan begitu juga untuk pengemis yang ketiga datang.

    Akhirnya aku marah dan berkata padanya: “Kita sudah tidak memiliki apa-apa.” Maka kemudian ia berbaring di atas tempat tidur dan menutup pintu sampai azan Zuhur. Aku datang padanya dan membangunkannya, maka ia pergi ke masjid dalam keadaan berpuasa, sehingga aku kasihan padanya, maka aku meminjam wang untuk membeli makanan untuknya berbuka.

    Ketika aku menyiapkan lampu dan makan malam, ia berkata: “Hidangan ini lebih enak daripada yang lain.” Setelah ia baru selesai makan malam, tiba-tiba salah seorang sahabatnya datang dan berkata padanya: “Wahai Abu Umamah, ini wang sejumlah 3,000 dinar sebagai keuntungan pinjaman dari wang yang aku pinjam darimu beberapa tahun yang lalu.” Maka ia menatapkan wajahnya ke langit sambil berbisik: “Wang satu dinar dibalas dengan seribu dinar, alangkah besarnya balasan Zat Tuhan Yang Maha Pemurah.”

    Pada tahun 86 H. Abu Umamah meninggal dunia menuju kampung akhirat untuk menikmati kehidupan di hadirat Allah, dengan memperoleh balasan sebagai orang mukmin, ahli ibadah, penyabar dan orang yang bersyukur.

^ Kembali ke atas ^

 

Kesalahannya Dimaafkan Rasulullah Kerana Ia Perajurit Badar

    Di Makkah ia tidak mempunyai kedudukan yang tinggi kerana ia bukan dari keluarga bangsawan, juga bukan dari keluarga pembesar, bukan hartawan dan bukan pedagang. Tujuan hidupnya yang utama adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan itu telah memberinya kemuliaan dan kehormatan. Di antara penghormatan Rasulullah SAW kepada Hatib iaitu baginda SAW telah mengutus ia agar datang kepada Al-Muqauqis, seorang pembesar suku Qibti dari Mesir, untuk menyampaikan surat Rasulullah yang isinya menyeru pada Al-Muqauqis ke dalam Islam.

    Setelah Al-Muqauqis membaca surat baginda tersebut dengan cermat, ia memandang Hatib dan bertanya padanya: “Bukankah sahabatmu itu seorang Nabi?” Jawab Hatib. “Benar, baginda adalah utusan Allah.” Mendengar jawapan Hatib, Al-Muqauqis mengirimkan beberapa hadiah kepada Rasulullah SAW di antara hadiah itu seorang hamba wanita bernama Mariyah Al-Qibtiyah.

    Hatib Ibnu Balta’ah adalah seorang penduduk Yaman, ia adalah sahabat kepada Zubair Ibnu Awwam. Ketika ia berhijrah ke Madinah, ia meninggalkan anak dan saudara-saudaranya. Pada masa jahiliyah, ia seorang penunggang kuda yang berani dan penyair ulung. Bait-bait syairnya sering disebarkan oleh para perawi dan dilagukan para kafilah dagang Arab. Ia masuk Islam ketika ia masih muda belia. Dan ia sangat tekun mempelajari syariat Islam dan ajarannya ketika ia masih muda. Selain itu pada perang Badar, ia turut bergabung dalam jihad fisabilillah; dan ia juga ikut bersama Rasulullah pergi ke Al-Hudaibiyah dan menyaksikan “Baiatur Ridwan.”

    Pada tahun 8 H. di saat Rasulullah SAW sedang sibuk mempersiapkan penaklukan kota Makkah sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah, ketika itu fikiran Hatib gundah gulana. Ia sedih memikirkan anak-anaknya dan keluarganya yang tidak aman daripada penganiayaan kaum Quraisy, kerana di Makkah mereka tidak mempunyai pelindung yang dapat melindungi dan menjaga mereka daripada musuh-musuh Islam. Bisikan-bisikan syaitan selalu menggoda fikirannya hingga ia merasa kalut, dan fikirannya buntu. Maka ia memutuskan akan mendekati kaum musyrikin Quraisy dengan memberitahu pada mereka mengenai rahsia-rahsia kekuatan senjata yang telah dipersiapkan Rasulullah untuk penaklukan besar atas kota Makkah.

    Tidak pernah terfikirkan olehnya, bahawa perbuatan itu merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan bahawa rahsia askar adalah amanat yang ada di bahu para perajurit. Bila salah satu rahsia sampai dibocorkan, maka perajurit tersebut akan mendapat amarah dari Allah, malaikat-Nya dan semua kaum muslimin, kerana ia membocorkan rahsia kekuatan askar yang akan menghadapkan pasukannya pada bahaya dan sekaligus menghadapkan tanah air pada kebinasaan.

    Itulah langkah yang terburuk dalam kehidupan Hatib Ibnu Balta’ah. Ia bertekad untuk memberitahu kaum Quraisy tentang askar Islam yang telah dipersiapkan Rasulullah SAW. Cahaya iman telah padam di hatinya. Ia tidak lagi memikirkan keagungan akidah. Maka dengan tangan gementar ia mulai menulis surat kepada pembesar-pembesar Quraisy, membuka rahsia askar Islam yang dipersiapkan secara matang oleh Rasulullah ke Makkah, agar mereka mempunyai gambaran atas keadaan kaum muslimin Madinah.

    Surat itu diserahkan kepada seorang wanita. Ia menyuruh wanita tersebut agar merahsiakan surat itu di sanggul rambutnya sehingga jika ada orang yang menghadang kenderaannya, maka surat itu tidak akan diketahui. Ia berjanji pada wanita itu akan memberi hadiah yang mahal bila surat itu telah sampai di tangan pembesar Quraisy.
Baru saja wanita tersebut meninggalkan Madinah, malaikat Jibril segera memberitahu Rasulullah tentang apa yang telah dilakukan Hatib. Maka Rasulullah cepat-cepat memanggil Ali Ibn Abi Thalib dan Zubair Ibn Awwam. Baginda berkata: “Kejarlah wanita itu, ia memberitahu surat Hatib untuk para pembesar Quraisy yang isinya menerangkan mereka tentang persiapan yang telah kita himpun dalam menaklukkan mereka.”

    Ali dan Zubair bergegas keluar mencari wanita itu dan keduanya menemukan wanita tersebut di daerah Raudhah Khah, 7 batu dari Madinah. Ketika Ali ra. menyuruh wanita itu supaya mengeluarkan surat Hatib, wanita itu tidak mengaku kalau ia sedang membawa surat. Maka Ali pun berdiri dan memeriksa kenderaannya, tetapi ia tidak menemukan surat itu.

    Akhirnya dengan marah Ali memandang wanita itu dan berkata: “Aku bersumpah kepada Allah bahawa Rasulullah tidak pernah berdusta. Sekarang kamu harus pilih apakah kamu mahu menyerahkan surat itu kepadaku, ataukah aku harus menelanjangi kamu!” Setelah Ali bersikap kasar dan memberi dua pilihan, akhirnya wanita itu berkata: “Berpalinglah.” Setelah itu Ali membalikkan badan kemudian wanita itu membuka ikatan rambutnya dan mengeluarkan surat darinya, lalu menyerahkan surat itu kepada Ali.

    Ali dan Zubair segera kembali kepada Rasulullah dengan membawa surat Hatib. Rasulullah menghadirkan Hatib Ibn Abu Balta’ah dan bertanya kepadanya, “Wahai Hatib, apa yang mendorong kamu berbuat demikian?” Maka oleh Hatib dijawab dengan nada terputus-putus: “Wahai Rasulullah, janganlah tergesa-gesa menghukum diriku. Semua itu kulakukan kerana aku bukan dari golongan Quraisy, di Makkah aku masih mempunyai sanak saudara.
Maka aku ingin kaum Quraisy menjaga keluargaku di Makkah. Dan sungguh, itu aku lakukan bukan kerana aku telah murtad dari Islam, dan bukan pula aku rela kepada kekufuran sesudah iman.”

Rasulullah memandang semua sahabat yang hadir dengan wajah bersinar, dan baginda berkata kepada mereka: “Bagaimana pun juga, ia telah berkata jujur.”

Suasana majlis menjadi hening sejenak, tiba-tiba Umar berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang munafik ini.”

    Umar berpandangan bahawa membocorkan rahsia-rahsia askar Islam merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka balasannya adalah harus dibunuh. Orang yang mengadakan hubungan dengan musuh, maka balasannya adalah dijatuhi hukuman mati.

    Sementara itu Rasulullah telah memaafkan Hatib kerana ia telah mengakui dosanya. Selain itu baginda mengingat perjuangan Hatib di masa lalu kerana ia berjuang di medan perang Badar, sehingga banyak pasukan musyrikin yang mati di bawah tebasan pedangnya. Ia berani menghadapi bahaya dengan menerjah barisan musuh. Rasulullah juga mengingat posisi Hatib pada hari Bai’atur Ridwan di bawah sebuah pohon yang diberkahi, di mana pada saat itu para malaikat menyaksikan orang-orang mukmin yang sedang mengulurkan tangan mereka untuk berbaiat kepada Rasulullah.

    Atas tiga dasar itu, maka baginda memandang Umar dan berkata: “Wahai Umar bagaimana pendapatmu, jika Allah telah memberi kelonggaran pada pejuang Badar?” Allah berfirman dalam Al-Ouran surah Al-Mumtahanah ayat 1 yang ertinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia, (sehingga) kamu menyampaikan kepada mereka (berita-berita) Muhammad, dikeranakan rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasulullah dan (mengusir) kamu kerana kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku. Kamu memberitahukan secara rahsia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, kerana kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Barangsiapa di antara kamu yang melakukan, maka sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan lurus.”     Hal lain yang menguatkan diterimanya taubat Hatib; pada suatu hari salah seorang pelayan Hatib datang kepada Rasulullah untuk mengadukan perlakuan Hatib kepadanya, kemudian pelayan itu berkata: “Wahai Rasulullah, kelak sungguh Hatib akan masuk neraka.” Tetapi Rasulullah berkata: “Tidak, kerana ia ikut berperang pada peristiwa Badar dan juga ikut dalam perjanjian Hudaibiyah.”

    Sejak saat itu, Hatib menangis menyesali perbuatannya. Siang dan malam dilakukan dengan selalu memohon ampunan kepada Allah atas kesesatannya hingga ia meninggal dunia pada usia 53 tahun tepatnya pada tahun 30 H. iaitu pada masa pemerintahan Usman Ibn Affan. Ia menghadapi kematian dengan jiwa yang redha kerana ia tahu bahawa Rasulullah telah memaafkannya meskipun ia telah mengkhianati hak Allah, Rasulullah dan kaum mukminin.

^ Kembali ke atas ^

 

Ia Mengetahui Sifat Rasulullah dalam Kitab Taurat

    Ketika Abdullah Ibn Salam berhadapan dengan Rasulullah, hati dan fikirannya langsung terbuka menyambut seruan Islam. Ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Abdullah Ibn Salam adalah keturunan dari Yusuf Ibn Ya’qub. Pada masa jahiliyah ia bernama Al-Husein. Tetapi setelah Islam, Rasulullah menggantinya dengan nama Abdullah.

    Dalam kitab Taurat, ia telah membaca sifat-sifat Rasulullah dan terus mengingatnya dalam fikiran. Ketika Rasulullah berhijrah ke Madinah, dan ketika Islam memancarkan sinarnya di rumah-rumah kaum Ansar dan kaum Muhajirin, maka penduduk Madinah yang ramai masuk Islam, di antara mereka adalah Abdullah Ibn Salam. Ia datang pada Rasulullah untuk menyampaikan maksud hatinya. Selain itu ia ingin melihat sifat-sifat baginda.

    Baru saja ia duduk di hadapan Rasulullah, ia dapat melihat sifat baginda yang sempurna sebagaimana yang telah diberitakan dalam kitab suci Taurat. Maka tanpa ragu-ragu, ia langsung mengucapkan dua kalimah syahadat. Masuknya Abdullah Ibn Salam ke dalam Islam merupakan awal terbukanya topeng rahsia kejahatan Yahudi terhadap Rasulullah dan Islam.

    Abdullah Ibn Salam lebih mengetahui sifat-sifat kaum Yahudi yang pengkhianat, penipu dan pembohong. Abdullah hendak memberitahu Rasulullah mengenai akhlak kaum Yahudi, mereka adalah kaum yang menyimpang dari kebenaran, suka berdebat di atas dasar kebatilan, suka menentang seruan para Rasul. Hati mereka selalu memendam tipu daya dan lisan mereka selalu mengatakan kebohongan. Abdulllah berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Yahudi itu biasa berdusta, maka jika mereka mengetahui aku masuk Islam, nescaya mereka akan memburuk-burukkan aku di hadapanmu. Kerana itu, utuslah seseorang agar memanggil mereka kemudian tanyakan mereka tentang diriku.”

    Rasulullah mengutus seseorang sahabat agar mengundang orang-orang Yaduhi. Ketika beberapa orang Yahudi datang, Abdullah Ibn Salam bersembunyi di ruang lain. Kemudian Rasulullah bertanya kepada mereka: “Wahai kaum Yahudi, bagaimana pendapat kalian tentang Abdullah Ibn Salam?” Jawab mereka: “Ia orang terbaik di kalangan kami dan ia anak orang terbaik. Ia ulama kami dan anak ulama kami. Ia orang terpandai di kalangan kami dan ia anak orang terpandai.”

Kemudian Rasulullah berkata lagi: “Bagaimana pendapat kalian jika ia masuk Islam, apakah kamu akan mengikuti ia masuk Islam?” Jawab mereka dengan keras: “Semoga Allah melindungi ia dari agama Islam.”

    Sejenak setelah suasana menjadi hening, tiba-tiba Abdullah Ibn Salam keluar sambil membaca dua kalimah syahadat. Orang-orang Yahudi saling memandang satu dengan yang lain, kemudian mereka berkata: “Abdullah itu orang jahat dan ia anak orang jahat. Ia orang bodoh dan anak orang bodoh.” Abdullah berkata kepada Rasulullah: “Inilah yang aku khuatirkan dari mereka.”

    Posisi orang Yahudi di hadapan Rasulullah bagaikan telur di hujung tanduk kerana dalam satu majlis mereka telah mengatakan dua pendapat. Apa pun yang dikatakan mereka tentang diri Abdullah Ibn Salam, setelah Abdullah mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan mereka, semua itu tidak menggoyahkan iman Abdullah, bahkan ia semakin teguh beriman dan meyakininya. Ia tetap di jalan Islam.

    Sejak saat itu, ia selalu datang ke majlis Rasulullah untuk mendengarkan pengajaran baginda dan menghafal Al-Quran sedikit demi sedikit serta mendalami Islam hingga ia menjadi salah seorang ulama Islam. Ia merupakan tempat kaum muslimin bertanya dan menerima fatwa. Kesaksian yang memperkuat hal itu adalah Mu’adz lbn Jabal kepada kawannya, ketika ia sedang sakit yang menyebabkan kematiannya, iaitu ketika salah seorang kawannya menjenguknya, maka kawan itu menangis manakala melihat keadaan Mu’adz yang sedang sakit kuat. Melihat keadaan itu, maka Mu’adz bertanya: “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Jawab kawan itu: “Kerana ilmu pengetahuan yang kuperoleh darimu, maka siapakah penggantimu kelak?” Mu’adz berpesan: “Bila aku meninggal, maka tuntutlah ilmu dari empat orang ini: “Abdullah Ibn Mas’ud, Abdullah Ibn Salam, Salman Al-Farisi, dan Abu Darda’.”
 
    Pada suatu malam Abdullah Ibn Salam bermimpi, ia berada di suatu taman, di tengah taman itu terdapat tiang terbuat dari besi. Pangkal tongkat tersebut menancap kuat di bumi. Sedangkan hujungnya menjulang ke langit. Di hujungnya ada tali. Tiba-tiba ia mendengar seseorang berkata: “Wahai Abdullah, naiklah.”

    Jawabnya: “Aku tidak boleh.” Tiba-tiba datang seseorang dari belakangnya dan menyorong hingga ia dapat memegang tali tiang itu. Setelah ia mengisahkan mimpinya kepada Rasulullah, Rasulullah bersabda: “Taman itu melambangkan Islam, tiang itu adalah tiang Islam, dan tali itu adalah tali Islam yang kuat. Kamu akan tetap di jalan Islam sampai kamu mati.”

    Beberapa sahabat terkemuka mengisahkan keutamaan-keutamaan Abdullah Ibn Salam. Mu’adz Ibn Jabal berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda berkenaan dengan Abdullah Ibn Salam: “Sungguh Abdullah Ibn Salam adalah salah seorang dari sepuluh orang yang telah dijamin masuk syurga.”

    Dalam riwayat lain, Sa’ad Ibn Abi Waqqash berkata: “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah bersabda berkaitan dengan seseorang dengan ucapan, “Sesungguhnya ia termasuk golongan ahli syurga, melainkan berkaitan dengan Abdullah Ibn Salam.”

    Sebahagian ahli tafsir mengatakan bahawa firman Allah dalam surah Al-Ahqaf ayat 1 yang ertinya: “Dan seorang Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) Al-Quran kemudian ia beriman, sedangkan kamu menyombongkan diri.” Yang dimaksud saksi dari Bani Israil dalam ayat tersebut adalah Abdullah Ibn Salam.

    Dalam Sahih Bukhari dan Muslim, dari Qais Ibn Ubadah berkata: “Ketika aku duduk di masjid Madinah bersama orang ramai, di antara mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah. Tiba-tiba seseorang datang yang di wajahnya terdapat tanda-tanda kekhusyukan, ia bernama Abdullah Ibn Salam. Ketika melihat dia, salah seorang berkata: “Orang ini termasuk ahli syurga.” Kemudian Abdullah solat dua rakaat, setelah itu ia keluar. Aku mengikutinya sampai ia masuk rumahnya. Maka aku pun ikut masuk rumah di belakangnya. Kemudian aku memberitahukan kepadanya tentang apa yang dikatakan seseorang mengenai dirinya. Ia berkata: “Tidak selayaknya seseorang mengatakan apa yang tidak diketahuinya.”

    Abdullah Ibn Salam sangat khusyuk dalam solatnya, alim dan mengerti dalam masalah-masalah agama. Ia hafal Al-Quran dan Taurat. Di majlis Rasulullah ia selalu merendahkan suaranya. Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, ia sangat merendahkan diri. Pada suatu ketika, ia berada di pasar dengan mengangkat seikat kayu bakar; ketika ditanya tentang: “Apa yang menyebabkan kamu membawa kayu bakar di pasar, padahal Allah telah memperkaya kamu tanpa itu?” Jawabnya: “Aku hendak menghilangkan rasa takburku. Kerana aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “Seseorang tidak akan masuk syurga jika dalam hatinya ada sebesar biji sawi rasa takbur.”

    Demikian itulah pengaruh dasar-dasar Islam dalam peribadi Abdullah. Perilakunya merupakan penerapan dari kitab Allah dan sunah Rasulullah. Maka dari itu, ia tidak pernah ragu-ragu dan ia selalu menjauhkan diri dari hal-hal yang meragukan dan meninggalkan yang samar-samar. Peribadinya selalu mencerminkan akhlak Islam yang luhur. Ia sangat mencintai persatuan kaum muslimin.

    Ketika rusuhan di tengah kaum muslimin berkobar dan khalifah Usman Ibn Affan dikepung kaum pemberontak, suasana waktu itu sangat memerlukan seseorang yang bijaksana untuk meredakan kerusuhan sebelum makin menjadi-jadi. Pada saat itulah Abdullah Ibn Salam datang ke rumah khalifah Usman. Ketika khalifah Usman melihat Abdullah Ibn Salam ia bertanya: “Wahai Abdullah Ibn Salam, apa sebab kamu datang kemari?” Jawabnya: “Aku datang untuk mempertahankan dirimu sampai aku mati syahid atau Allah akan memberikan kemenangan bagimu.

    Kerana aku melihat mereka akan membunuhmu. Jika mereka membunuhmu, maka hal itu merupakan kebaikan bagimu dan keburukan bagi mereka.”

Usman berkata: “Aku meminta kepadamu kerana hakku atas dirimu, keluarlah kepada mereka.”

    Ketika Abdullah keluar, para pemberontak mengira bahawa Abdullah datang dengan khabar gembira bagi mereka. Ternyata Abdullah sendiri di tengah-tengah mereka dan berkhutbah, “Janganlah melawan khalifah dengan membunuhnya. Demi Allah, tidak ada seseorang dari kamu yang membunuhnya kecuali pada hari kiamat nanti pembunuh tersebut akan menghadap Allah dengan tangan terputus dan lumpuh. Ketahuilah bahawa tidak ada hak bagi orang tua atas anaknya, kecuali khalifah ini. Ia mempunyai hak atas kalian. Mendengar ceramah itu, para pemberontak berteriak: “Wahai Yahudi kamu telah berdusta. Kamu telah berdusta.” Abdullah menjawab: “Demi Allah kalian yang berdusta, dan kalian telah berbuat dosa. Aku bukan orang Yahudi dan sungguh aku seorang muslim. Allah mengetahui hal itu, demikian pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Dalam Al-Quran telah disebutkan bahawa: “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu dan antara orang yang mempunyai ilmu al-kitab.”

(Al-Ra’d: 43)
    Abdullah Ibn Salam diberi Allah umur panjang. Setelah ia tua dan keadaan badannya sudah lemah, ia berkata kepada Salman Al-Farisi, sahabat karibnya: “Siapa di antara kita yang mati lebih dahulu, maka hendaknya ia menyampaikan khabar akhirat kepada yang masih hidup.” Dan Allah telah menghendaki Salman berangkat ke kampung akhirat lebih dahulu. Kemudian pada suatu malam, Abdullah Ibn Salam mimpi bertemu Salman, maka ia bertanya: “Hendaknya kamu selalu bertawakal, kerana aku telah mendapat sesuatu yang mengkagumkan dalam tawakal.”

    Pada masa pemerintahan Muawiyah (43 H.), Abdullah Ibn Salam meninggal dunia dalam keadaan redha dan diredai Allah setelah ia menjalani kehidupan yang diwarnai oleh ketakwaan dan disinari oleh cahaya keimanan.

^ Kembali ke atas ^

 


Dipetik Dari Buku: 3003 Permata - Kisah-kisah Insan Pejuang (Siri 3)
Pengarang: Abu Hikmah Al Husni



All Right Reserved Darul Nu'man © EMAG 1991